Harga Makanan Warteg Yang Tidak Konsisten
10 February 2008 6 Komentar
Warteg, begitu mendengar kata ini kita semua pasti teringat akan warung makan yang menyediakan berbagai makanan siap saji dengan harga terjangkau (bukan murah lho!! terjangkau != murah). Warteg juga menjadi salah satu penyokong kehidupan sebagian mahasiswa (contoh: saya) dalam urusan perut. Mungkin bila tidak ada warteg saya bakal kerepotan mencari makan tiap harinya.
Dibalik keunggulannya dalam hal harga dan kecepatan penyajian, ada satu hal yang tidak saya sukai dari warteg yaitu tidak adanya daftar harga makanan. Sepintas hal ini sering dianggap remeh oleh banyak orang ( saya juga salah satunya ) karena mungkin mereka merasa bisa mengira-ngira harga makanan yang mereka beli dan itu SALAH BESAR. Saya sebagai orang yang sering makan di warteg saja tidak bisa memperkirakan dengan TEPAT harga makanan yang mesti dibayar. Jenis lauk yang diambil bukan satu-satunya indikator penentu harga, ada dua lagi yang mesti diperhatikan yaitu WARUNG DIMANA ANDA MAKAN dan SIAPA YANG MELAYANI ANDA. Warteg tempat anda makan sangat menentukan harga 1 porsi piring anda, misal: dengan lauk telur+tahu anda hanya perlu membayar Rp 3.500 di warteg shinta dekat kos saya namun anda perlu membayar Rp 5.000 di warteg shinta dekat gerbang kukusan teknik. Meskipun sama-sama bernama warteg shinta ( saya tidak tahu apakah shinta membuka cabang atau shinta merupakan franchise warteg? ) tetapi harganya bisa beda.
Dan yang paling membuat saya terheran-heran adalah harga makanan bisa berbeda tergantung siapa yang melayani anda. Untuk lauk yang sama kalau anda dilayani oleh A maka harganya Rp 3.000, lain lagi bila dilayani oleh si B, harganya berubah menjadi Rp 3.500, kadang-kadang kalau beruntung anda cukup membayar Rp 2.500 bila dilayani oleh C. Mereka seenaknya sendiri menentukan harga, tidak ada kesepahaman antar pelayan. Apakah tidak pernah diadakan koordinasi? atau jangan-jangan karena para pelayan itu masih berhubungan saudara sehingga mereka merasa kalau saudaranya itu sudah paham cara menentukan harga. Saya juga bodoh karena tidak pernah menanyakan keanehan ini pada mereka.
Komentar untuk "Harga Makanan Warteg Yang Tidak Konsisten"
Soalnya ngga on-job-training-nya Gih..
Lagian ngga ada pre-interview-nya juga,
balas
Blom pernah ke warteg

balas
adalagi salah satu sistem warteg disamping keanehan2 di atas, yakni sistem “guyur”. klo di warteg deket rumah yang franchise nya “Saiki Jaya”. Apapun lauknya, tetep aja di guyur dengan berbagai macam kuah
balas
Pingback / Trackback :
Tinggalkan Komentar